Selayang Pandang Haji Andi M, Herbalis Terkemuka Indonesia

Haji Andi M. Nama ini pernah begitu tenar sebagai ahli pengobatan berbasis ramuan herbal. Sempat vakum cukup lama, Haji Andi M kini kembali lagi dengan nama baru, Haji Andi. Tentu masih dengan merk lamanya, “Akar Pinang”. Haji Andi kembali hadir, untuk memberi manfaat lebih banyak buat masyarakat, terutama mereka yang sedang mengalami masalah kesehatan.

Haji Andi lahir 2 Juli 1971 di Palembang, Sumatera Selatan. Orang tuanya H.Ahmad dan H. Nurbaini. Ia lahir sebagai anak dari 9 bersaudara. Karena anak tentara, Haji Andi hidupnya berpindah-pindah. Sempat 3 tahun di Palembang, Sumatera Selatan, ia kemudian diboyong ayahnya ke Solok, Sumatera Barat. Di usia 7 tahun, Haji Andi masuk SD Pertiwi Solok.

Menariknya, sejak sekolah dasar, ia sudah gemar berguru ke orang pintar hingga sering bolos sekolah. Namun karena selalu rangking satu, gurunya tak pernah marah. Bahkan ada pengalaman menarik, semasa Andi kecil duduk di kelas 1 Tsanawiyah, ada gurunya yang bernama Pak Johar sudah bertahun tahun kena kencing batu.

Karena sakitnya ia jadi jarang mengajar. Tahu jika Andi suka belajar ilmu pengobatan, Pak Johar lantas minta tolong. Dengan beberapa ramuan dan doa, Andi mencoba menyembuhkan penyakit Pak Johar. Selang dua hari kemudian, Pak Johar mengaku sudah sehat. Ia masuk mengajar dengan wajah berseri-seri.

Momen itu membuat Andi mulai dikenal sebagai tabib. Ia jadi sering diminta bantuan teman-temannya untuk mengobati penyakit ringan seperti bengkak bengkak, amandel sampai penyakit yang tidak ia mengerti. Tiga tahun di bangku MTS, Andi kemudian melanjutkan ke Sekolah Pendidikan Agama Islam (PGA). Ia sempat diolok-olok temannya, karena PGA tidak memiliki prospek cerah.

Masa remaja Andi memang berbeda dengan remaja kebanyakan. Jika mereka lebih banyak main, Andi memilih untuk banyak ikut pengajian dan mempelajari ilmu kebatinan. Puluhan guru seantero Sumatera Barat ia sambangi dan serap ilmunya. Bahkan Andi merambah ke Aceh,Jambi, Palembang dan tempat lain yang disinyalir di daerah itu tinggal guru atau orang pintar yang sudah kondang.

Selain itu, Andi juga punya kebiasaan baru, yaitu menjajal ilmu kebatinan beberapa dukun dan guru muda di sekitar Solok. Pernah satu ketika, ia menyerah saat mengobati seorang pasien. Andi kemudian ingat seorang dukun wanita dari Bukit Rangeh, yang namanya mulai harum di se-antero Sumatera Barat. Ia lantas mencoba mengantar temannya ke dukun tersebut.

Niat itu diwujudkan. Namun saat hendak memasuki rumah paranormal bernama Alipat atau Annis ia keburu ditegur ‘orang gaib’ yang mendampingi perempuan itu. Sejak mendapat teguran ‘orang gaib’ itu, Andi selalu gelisah. Apalagi ia kerap bermimpi didatangi orang pintar dan mengatakan kalau ia akan berjodoh dengan Annis. Sampai ia lulus PGA, suara bisikan itu masih tetap mengikuti.

Usai lulus PGA, Andi ingin merantau. Ia bercita-cita kerja di kapal,agar bisa melihat negeri orang. Dukungan dari orang tuanya semakin mengentalkan niat Andi. Sayang, jelang beberapa hari keberangkatannya, suara dan mimpi yang membisikan ia akan berjodoh dengan Annis semakin kerap datang.Andi bimbang. Ia merasa tak yakin.

“Mana mungkin,”kata suara batinnya. Kebimbangan terbesar adalah soal restu keluarga. Tidak mungkin orang dari keluarga terpandang seperti dirinya harus menikah dengan perempuan miskin yang tidak jelas asal usulnya. Namun pada akhirnya Andi nekad. Ia lantas kembali ke Bukit Rangeh dan bertemu Annis. Di lamarlah sang gadis di depan ibunya saat itu juga. Mereka menikah. Usai menikah, karena belum ada pekerjaan tetap,kondisi Andi sering kesulitan.

Pernikahan yang baru beberapa hari terpaksa ditinggalkan. Annis masih tetap mengobati. Andi berkelana ke berbagai tempat untuk mengajar dan terus mencari guru. Sesekali ia mengunjungi istrinya di Bukit Rangeh. Baru setelah tiga tahun, pernikahan yang disembunyikan itu ketahuan orang tuanya. Keluarga besarnya marah besar. Mereka tidak menyetujui perkawinan itu.

Keluarga kecil Andi hampir tiap tahun berpindah rumah tinggal. Kehidupan Andi dan istrinya masih susah. Sambil terus mempraktikan ilmu pengobatan, Andi juga terus memperdalam ilmu kebatinan. Di sela-sela waktu luang, ia tekun belajar berbagai tumbuhan herbal yang biasa dipakai oleh para ahli pengobatan tradisional di daerahnya. Hanya saja, Sijungjung agaknya tidak bisa memberikan harapan pasti. Andi akhirnya memutuskan pindah ke Kota Padang.

Di Padang, kehidupan Andi berangsur-angsur membaik. Pasiennya mulai berdatangan. Dari masyarakat miskin hingga pejabat pemerintahan datang meminta tolong. Dari hasil mengobati mereka, Andi mampu membeli sebuah rumah dan ladang teh seluas satu hektar. Sebuah sedan Corona tahun 76 juga terparkir di halaman rumahnya yang mungil.

Karena ingin lebih bermanfaat untuk banyak orang, tahun 1991 mereka pindah ke Jakarta. Membawa empat anaknya yang masih kecil-kecil, keluarga kecil Andi mengontrak sebuah rumah petak di Kawasan Kunciran,Cipondoh, Tangerang. Setahun berselang, Andi pindah ke Komplek Perdagangan. Di tempat inilah, Andi kemudian membeli rumah yang kini jadi kantor Yayasan Haji Andi Muhammad.

Tahun 1994, Andi menunaikan ibadah haji. Sedangkan Annis berumrah dua tahun kemudian. Perjalanan karirnya sebagai pengobat,semakin lama semakin mendapat tempat di hati masyarakat. Untuk lebih memperluas jangkauan, Haji Andi beberapa kali mengisi program kesehatan bertajuk “Akar Pinang” di beberapa televisi swasta. Merek dagang “Akar Pinang” inilah yang semakin melambungkan nama Haji Andi sebagai pakar pengobatan herbal.

Dari semua perjalanan hidupnya sebagai tabib, Haji Andi mengaku terkesan ketika ia ditantang oleh Menteri kesehatan Sujudi untuk menyembuhkan pasien HIV/AIDS. Sebagaimana diketahui,penyakit itu belum ada obatnya. Namun lewat berbagai ramuan tradisional, Haji Andi mampu membuktikan kalau ia bisa menyembuhkan penyakit HIV/AIDS. Keberhasilan itu bahkan sempat dimuat di berbagai media massa.

“Namun baru 16 pasien yang saya sembuhkan,menterinya keburu diganti. Dan sayangnya, usaha kami tetap tidak mendapat respon positif,”kata Haji Andi.

Kendati demikian, Haji Andi tidak berkecil hati. Kini dengan keikhlasan hati setelah mendapat beragam ujian selama ia vakum di dunia pengobatan, pria yang akrab disapa ‘Pak Haji’ ini memutuskan untuk total menyapa masyarakat, yang masih membutuhkan tenaganya untuk menyembuhkan beragam penyakit yang mereka derita.

#SalamAkarPinang #SalamKesehatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *